Barang Siapa Mengikuti Suatu Kaum

Barang Siapa Mengikuti Suatu Kaum



Dari Ibnu 'Umar radhiyallohu Ta'ala 'anhuma dia berkata: Rosululloh shollallohu 'alayhi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yg menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut." (HR. Imam Abu Dawud dalam Sunannya & dishahihkan oleh Ibnu Hibban) Hadits tersebut derajatnya adalah hasan & mengandung banyak sekali faidah.

Barang Siapa Mengikuti Suatu Kaum

FAIDAH | Tegas menerangkan bahwa barang siapa yg menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut. Kaum disini bersifat umum, yakni: Barang siapa meniru-niru orang kafir maka ia termasuk dari mereka. Barang siapa yg meniru-niru pelaku maksiat (fujjar/fasik) maka ia termasuk dari mereka.

Jika dalam perkara yg zhahir (misal: gaya hidup, cara berpakaian suatu kaum) saja dilarang oleh Nabi shollallohu 'alayhi wa sallam, maka bagaimana lagi jika kita meniru-niru peribadatan mereka.

Kenapa? Sebab kalau kita ikut-ikutan gaya mereka, maka akan mewariskan kecintaan suatu kaum di dalam batinnya. Kalau dengan zhahir nya antara Si X & Si Z; gayanya sama; modelnya sama; cara berpakaiannya sama; maka akan timbul kecintaan diantara mereka berdua. Rosulullah shollallohu 'alayhi wa sallam tidak menginginkan hal itu. Seorang muslim harus bara' (berlepas diri) terhadap orang kafir; gak boleh ada kecintaan terhadap orang-orang kafir di dalam masalah agama. Kenapa? Karena mereka kufur pada Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

Perhatikan! Misalnya agar tidak mengikuti suatu kaum, Rosulullah shollallahu 'alayhi wa sallam memerintahkan kaum muslimin agar mewarnai uban mereka yg berwarna putih. Dalam hadits Rosulullah shollallahu 'alayhi wa sallam mengatakan: "Rubah lah warna putih uban tersebut (disemir dengan menggunakan selain warna hitam) & jangan kalian meniru-niru orang Yahudi." (HR An Nasai nomor 4986, Tirmidzi nomor 1674)

Padahal kita tau, namanya uban bukan kita yg melakukan tapi terjadi dengan sendirinya. Kalau uban yg terjadi dengan sendirinya saja kita disuruh merubah warnanya supaya tidak sama dengan suatu kaum (orang Yahudi) maka bagaimana jika seseorang sengaja melakukan suatu perbuatan yg mirip (usaha meniru-niru) sama perbuatan orang-orang kafir? Ini tentu saja lebih tidak diperbolehkan. Rosulullah shollallohu 'alayhi wa sallam ingin kita memiliki tamayyuz (tampil beda) sama orang kafir.

Contohnya lagi, Rosulullah shollallahu 'alayhi wa sallam mengatakan: "Cukur kumis & panjangkan jenggot & selisihilah orang-orang Majusi." (HR Muslim nomor 260) Kenapa? Karena orang Majusi tak berjenggot, sampai sekarang pun orang Majusi tak berjenggot. Di zaman Rosulullah shollallahu 'alayhi wa sallam, orang-orang Yahudi dan orang musyrikin berjenggot tapi Rosulullah shollallohu 'alayhi wa sallam melirik kepada 1 jenis suatu kaum orang kafir yakni Majusi (penyembah matahari), dimana mereka tidak berjenggot & Rosululloh shollallohu 'alayhi wa sallam memerintahkan untuk menyelisihi Majusi. Maka dari itu, ikhwan & akhwat yg dirahmati oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala, Seorang Muslim sebaiknya berusaha menjauhkan dirinya dari meniru-niru suatu kaum orang kafir untuk masalah pakaian, pola hidup, gaya apalagi untuk masalah peribadatan.

Ada perkara yg perlu kita ingatkan. Kalau ternyata suatu kaum orang kafir menjalani kegiatan yg bermanfaat maka tidak mengapa ditiru, yg dilarang oleh Nabi shollallohu 'alayhi wa sallam adalah meniru-niru perkara yg tidak ada manfaatnya yakni hanya sekedar gaya/model.

Misal contohnya, Rosulullah shollallohu 'alayhi wa sallam dahulu ketika menulis surat kepada pembesar-pembesar orang kafir, ia shollallahu 'alayhi wa sallam diberi usulan oleh beberapa shahabat supaya memberi cap stempel di akhir surat. Kenapa ? Karna kebiasaan suatu kaum orang-orang kafir, mereka tak menganggap surat itu resmi kecuali ada stempelnya. Kemudian Rosulullah shollallohu 'alayhi wa sallam meniru mereka karena hal itu ada manfaatnya.

Dan juga ketika terjadi perang Khandaq, walaupun riwayat tersebut diperbincangkan para ulama, tetapi disebutkan di dalam buku sejarah bahwa beberapa sahabat (Salman Al Farisi) memberikan ide untuk Nabi shollallohu 'alayhi wa sallam supaya membuat khandaq (parit) disaat dalam keadaan terjepit. Ini dilakukan karena suatu kaum orang-orang Majusi ketika dalam keadaan terdesak & Rosululloh shollallohu 'alayhi wa sallam meniru cara tersebut. Hal ini menunjukkan meniru yg dilakukan orang kafir selama berfaedah tidak mengapa, tidak termasuk ke dalam tasyabbuh.

Yang menjadi masalah, kita lihat sekarang ini kaum muslimin mengikuti barat (suatu kaum orang-orang kafir) untuk hal yg tidak bermanfaat, seperti gaya hidup, pesta-pesta, nyanyi-nyanyi, hari nenek, ulang tahun dan lain-lain. Seandainya yg mereka tiru itu bermanfaat, misalnya kemajuan teknologi, itu tidak mengapa & tidak dilarang oleh Nabi shollallohu 'alayhi wa sallam. "Kalian lebih tau tentang perkara dunia kalian." (HR. Muslim)

Yg lebih menyedihkan lagi, kita dapati beberapa kaum muslimin meniru-niru suatu kaum orang kafir di dalam beribadah. Contoh: meniru-niru orang Nashrani yg beribadah menggunakan musik & nyanyian, padahal ulama semuanya (ijma') mengharamkan alat-alat musik. Ini sebagian kecil yg bisa saya sampaikan tentang faidah hadits ini, hadits ini pembahasannya amat panjang.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta'ala menjauhkan kita dari hal-hal yg menjerumuskan kita ke dalam bertasyabbuh kepada suatu kaum orang-orang yg dibenci oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Kita berusaha bertasyabbuh sama orang-orang shalih, supaya kita kelak di kumpulkan bersama mereka di hari kiamat nanti.
    Baca Juga :


Share this: