Steven Johnson Syndrome Adalah

Steven Johnson Syndrome Adalah





Steven Johnson Syndrome di definisikan sebagai reaksi alergi sistemik (sistemik=menyerang keseluruhan badan) dengan karakteristik berupa rash atau kemerahan yg mengenai kulit & selaput lendir, termasuk selaput lendir mulut.

Steven Johnson Syndrome Adalah

Syndrom Stevens Johnson pertama diketahui pada tahun 1922 oleh dua dokter, dr. Stevens & dr. Johnson, pada 2 pasien anak laki-laki. Tapi dokter tersebut tidak bisa menentukan penyebabnya.

Hampir seluruh kasus SJS disebabkan dari reaksi hipersensitif (alergi) pada obat, terutama antibiotik (misal: obat sulfa & penisilin), antikejang (misal: fenitoin) & obat antinyeri, termasuk yg dijual tanpa resep (misal: ibuprofen), ataupun virus tertentu. Syndrom Stevens Johnson termasuk salah satu 'kalau bukan satu satunya' penyakit kulit yg dapat menyebabkan kematian.

Dikarenakan menyerang selaput lendir, SJS bisa mengakibatkan komplikasi berupa radang pada kornea (keratitis), menyerang bagian di dalam bola mata (uveitis) bahkan hingga berakibat kebutaan. Stevens Johnson Syndrom juga bisa menimbulkan nephritis (radang ginjal), hepatitis (radang hati), arthritis (radang sendi), perdarahan saluran cerna, & pneumonia.

Jika kerusakan yg terjadi kurang lebih 10% dari permukaan kulit & mukosa, itu disebut dengan Steven Johnson Syndrome. Tapi, jika kerusakan yg terjadi mencapai lebih dari 30%, itu dikenal dengan nama Toxic Epidermal Necrolysis (TEN). Digolongkan bentuk transisi, bila luas daerah yg terkena sekitar 10-30%.

Ciri utama dari Steven Johnson Syndrome adalah rash atau kemerahan kulit. Kemerahan tersebut akan timbul dalam bentuk & ukuran yg beragam. Tempatnya bisa diseluruh badan. Dari wajah sampai gen *ital & an *us juga bisa terkena. Bagian kemerahan tersebut kemudian akan pecah sehingga kulit di bagian dalam terlihat. Itu akan menimbulkan rasa sakit & gatal untuk penderitanya.

Jika gejala tersebut muncul dalam dua minggu setelah mengonsumsi obat tertentu, biasanya kalian akan menganggap bahwa SJS ini datang karena di induksi oleh obat tersebut.

Penelitian melaporkan bahwa Steven Johnson Syndrome adalah kasus yg langka. Hanya 1 dari 2000 orang yg mengonsumsi antibiotik penisilin yg terkena Steven Johnson Syndrome. Karena itu kalian tidak perlu takut.

Yang lebih penting kalian ketahui adalah begitu muncul reaksi tidak normal setelah menggunakan obat-obat tertentu, cepat hentikan pemakaian obat tersebut kemudian laporkan ke dokter kalian.

Steven Johnson syndrome biasanya berawal dari demam, sakit kepala, pegal, batuk, tidak enak badan (malaise), nyeri otot (myalgia/myodynia), nyeri sendi (arthralgia), batuk berdahak, terkadang disertai muntah, diare & proses ditandai dengan infeksi saluran nafas atas yg nonspesifik (nonspecific upper respiratory tract infection) yg bisa berlanjut dari 1-14 hari. Keterlibatan membran mukus & mulut menunjukkan bahwa penderita tidak bisa makan & minum, seringkali telapak tangan ataupun kaki melepuh.

Lalu pasien mengalami ruam datar berwarna merah di muka & batang tubuh, sering kali kemudian meluas ke semua tubuh dengan pola yg tidak rata. Daerah ruam membesar & meluas, sering membentuk lepuh di engahnya. Kulit lepuh sangat longgar & mudah lepas jika digosok.

Pada Steven Johnson Syndrome pasien mempunyai lepuh pada selaput mukosa yg melapisi mulut, tenggorokan, kel *amin, du *bur, & mata.

Mengenal gejala awal Steven Johnson Syndrome & segera periksa ke dokter adalah cara terbaik buat mengurangi efek jangka panjang yg bisa sangat mempengaruhi orang yg mengalaminya. Gejala awal diantaranya:

- ruam
- lepuhan pada mulut, kuping, mata, hidung atau alat kel *amin
- bengkak di kelopak mata, atau mata merah
- konjungitifitis (radang selaput yg melapisi permukaan dalam kelopak mata & bola mata)
- demam terus-menerus ataupun gejala seperti flu

Bila kalian mengalami dua atau lebih gejala tersebut, terutama bila kalian baru mulai menggunakan obat baru, segera periksakan diri ke dokter.


    Baca Juga :

Share this: